BudayaDetail Budaya

Tarian Tradisional Reog Ponorogo Tarian Tradisional

2018-09-04 14:03:14
| | |
Share:

Reog merupakan salah satu kesenian budaya Indonesia yang berasal dari daerah Jawa Timur tepatnya pada bagian barat laut. Sedangkan Ponorogo merupakan kota asal Reog yang sebenarnya. Reog merupakan salah satu budaya yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat. Pada pertunjukannya, gerbang kota Ponorogo selalu dihiasi oleh sosok warok dan gemblak. Dalam tarian tradisional ini, sosok warok merupakan sosok yang berperan sebagai pengawal / punggawa raja Klana Sewandana (warok muda) atau sesepuh dan guru (warok tua). Asal-usul dari adanya tarian tradisional ini, dimulai dari adanya cerita tentang pembrontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak istri raja Majapahit yang berasal dari Tiongkok, selain itu juga murka kepada rajanya dalam pemerintahan yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan di mana ia mengajar seni bela diri kepada anak-anak muda, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit kembali. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Kertabhumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog. Dalam pertunjukannya, tarian tradisional Reog Ponorogo ini menampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya. Kepopuleran Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Bhre Kertabhumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer di antara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru di mana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewandono, Dewi Songgolangit, dan Sri Genthayu. Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Reog_(Ponorogo) http://www.ragamseni.com/7-tarian-tradisional-dari-jawa-timur-yang-harus-dipertahankan/


Budaya Lainnya

Lambang Kabupaten Probolinggo -Jawa Timur

Makna Lambang : Bintang berwarna kuning merupakan pertanda KETUHANAN YANG MAHA ESA. Sungai sebagai pertanda “Sungai Banger”. Sebuah sungai yang [...]

Baca Selengkapnya

Tari Mak Yong Kepulauan Riau

Makyong merupakan seni drama yang dapat di golongkan ke dalam bentuk drama tari yang mengandung unsur-unsur ritual. Makyong sangat di gemari oleh masy [...]

Baca Selengkapnya

Bahasa Bada

Bahasa Bada terdapat di beberapa wilayah di Provinsi Sulawesi Tengah. Secara kuantitatif bahasa ini terdin atas dua dialek, yaitu (1) dialek Napu dan [...]

Baca Selengkapnya

Air Terjun Curup Tujuh, Lampung

Tempat wisata di Lampung berikutnya adalah air terjun curup tujuh. Lokasi wisata yang ada di tengah hutan ini memiliki panorama alam yang mempesona. A [...]

Baca Selengkapnya
Komentar
Komentar masih kosong. Jadikan diri anda sebagai komentar pertama.
Berikan Komentar