BudayaDetail Budaya

Suku Toraja Suku Bangsa

2018-12-21 11:14:56
| | |
Share:

Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara sulawesi selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan 500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, kabupaten toraja utara, dan kabupaten mamasa. Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma. Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti "orang yang berdiam di negeri atas". Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Yang paling terkenal dari suku Toraja adat atau tradisi pemakamannya. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Masyarakat Toraja hidup dengan mengamalkan falsafah kehidupan leluhur mereka yang disebut ‘tallu lolona’. Tallu lolona memiliki arti tiga kehidupan, yakni kehidupan manusia, kehidupan hewan, dan kehidupan lingkungan. Sistem pengetahuan dan cara berfikir suku toraja selalu dilandaskan pada falsafah tallu lolona ini. Suku Toraja mengembangkan hubungan harmonis antara sesama makhluk (lolo tau, lolo patuan dan lolo tananan) serta hubungan dengan yang kuasa didasarkan pada nilai keutuhan yang saling menghidupkan. Oleh sebab itu, bagi masyarakat Toraja, kehidupan yang saling memberikan keuntungan antara manusia, hewan dan lingkungan merupakan bentuk kehidupan yang ideal. Kehidupan yang saling memberi dan menguntungkan terhadap sesama makhluk akan menciptakan bentuk kehidupan yang indah dan damai. Prinsip hidup ini membentuk jati diri kepribadian orang suku Toraja yang selalu hidup bersanding dengan alam secara harmonis dan tidak dapat dilepaskan dari unsur alam. Selain itu, masyarakat toraja juga memiliki filosofis yang disebut dengan ‘tau’. Filosofis ‘tau’ ini memiliki empat pilar utama yang harus dijadikan sebagai arah hidup orang Toraja. Empat pilar tersebut adalah : Sugi’ (Kaya), Barani (Berani), Manarang (Pintar), Kinawa (Berhati Mulia, yakni memiliki nilai-nilai luhur, agamis dan bijaksana). Seorang Toraja bisa disebut sebagai ‘tau’ (manusia) ketika telah mampu mengamalkan keempat pilar dasar tersebut. Kedewasaan manusia dalam budaya suku Toraja terjadi ketika pribadi seseorang benar-benar telah mampu mencerminkan falsafah dasar ‘tau’ tersebut. Sebelum abad ke-20, suku Toraja tinggal di desa-desa otonom. Mereka masih menganut animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal tahun 1900-an, misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen. Setelah semakin terbuka kepada dunia luar pada tahun 1970-an, kabupaten Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indonesia. Tana Toraja dimanfaatkan oleh pengembang pariwisata dan dipelajari oleh antropolog. Masyarakat Toraja sejak tahun 1990-an mengalami transformasi budaya, dari masyarakat berkepercayaan tradisional dan agraris, menjadi masyarakat yang mayoritas beragama Kristen dan mengandalkan sektor pariwisata yang terus meningkat. Sumber : http://www.netralnews.com/news/rsn/read/105938/mengenal-kebudayaan-daerah-4-suku-di-sulawesi-selatan dan https://ilmuseni.com/seni-budaya/kebudayaan-suku-toraja


Budaya Lainnya

Banta Seudang

Banta Seudang adalah putra Raja Kerajaan Aceh. Ia bersama ayah dan ibunya dicampakkan oleh Pakciknya sendiri, karena ayahnya buta dan tidak dapat lagi [...]

Baca Selengkapnya

Legenda Si Kembar Sawerigading dan We Tenriyabeng

Pada jaman dulu ada seorang pemimpin kerajaan dari keturunan Raja Langit yang bernama La Tiuleng. Raja itu memiliki gelar Batara Lattu. Batara Lattu d [...]

Baca Selengkapnya

Lonceng Cakra Donya

Lonceng Cakra Donya, lonceng tersebut terbuat dari besi yang berbentuk seperti stupa dan dibuat oleh China pada tahun 1409 M. Pada bagian lonceng terd [...]

Baca Selengkapnya

Saluang

Saluang termasuk alat musik tiup. Alat musik tradisional minangkabau ini terbuang dari ‘talang’ yang merupakan sejenis bambu tapi lebih tipis. Tal [...]

Baca Selengkapnya
Komentar
Komentar masih kosong. Jadikan diri anda sebagai komentar pertama.
Berikan Komentar