BudayaDetail Budaya

Suku Bugis Suku Bangsa

2018-12-21 10:55:55
| | |
Share:

Bugis merupakan kelompok etnik dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Penciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang Melayu dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah terakulturasi, juga dikategorikan sebagai orang Bugis. Berdasarkan sensus penduduk Indonesia tahun 2000, populasi orang Bugis sebanyak sekitar enam juta jiwa. Kini orang-orang Bugis menyebar pula di berbagai provinsi Indonesia, seperti Sulawesi Tenggara,Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Orang Bugis juga banyak yang merantau ke mancanegara. Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Orang Bugis zaman dulu menganggap nenek moyang mereka adalah pribumi yang telah didatangi titisan langsung dari “dunia atas” yang “turun” (manurung) atau dari “dunia bawah” yang “naik” (tompo) untuk membawa norma dan aturan sosial ke bumi (Pelras, The Bugis, 2006). Umumnya orang-orang Bugis sangat meyakini akan hal to manurung, tidak terjadi banyak perbedaan pendapat tentang sejarah ini. Sehingga setiap orang yang merupakan etnis Bugis, tentu mengetahui asal-usul keberadaan komunitasnya. Masyarakat Bugis memiliki empat strata adat istiadat. Adat disini merupakan sejumlah tata aturan sosial yang menjadi landasan hukum dan dipatuhi secara bersama oleh keseluruhan masyarakat suku Bugis. Empat strata adat tersebut, yaitu : Ade Maraja, yakni sistem adat yang hanya dipakai di kalangan Raja atau pemimpin saja. Ade Puraonro, yakni sistem adat yang dilestarikan secara turun temurun sehingga sudah dilakukan sejak lama. Ade assamaturukeng, yakni sistem adat atau peraturan yang ditentukan melalui kesepakatan bersama. Ade abiasang, yakni adat yang sudah dipakai dari dulu hingga pada masa sekarang dan sudah diterapkan sebagai kebiasaan di dalam masyarakat. Dalam Lontara orang Bugis terdapat lima prinsip dasar yang dikenal dengan sebutan pangngadereng, yang terdiri dari : Ade adalah sebuah bentuk sikap yang fleksibel dan adaptif terhadap berbagai peraturan hidup bermasyarakat. Bicara adalah tata kesopanan dan kesantunan dalam berkomunikasi. Rapang merujuk kepada sebuah bentuk tingkah laku atau perbuatan yang baik dan hendaknya diikuti oleh masyarakat. Dengan kata lain adalah sikap ketauladanan. Wari adalah aturan yang mengatur mengenai keturunan dan hirarki masyarakat syara dalam hal ini adalah aturan hukum Islam Sara atau siri merupakan prinsip dan kepribadian tegas yang melandasi segala perbuatan dan tindakan atau tingkah laku orang bugis. Orang suku Bugis memiliki konsep kepribadian “Siri”. Maknanya adalah bahwa orang Bugis sangat menjunjung tinggi harga diri. Dalam pepatah orang Bugis dikatakan “ siri paranreng, nyawa pa lao”, yang artinya adalah apabila harga diri telah ternodai maka nyawa lah yang akan jadi bayarannya. Sehingga bila ada seseorang yang merusak harga diri orang lain, maka pertumpahan darah adalah jalan penyelesaiannya. Boleh jadi hampir mirip dengan konsep “harakiri” dalam kebudayaan Jepang. “Siri na Pacce” merupakan simbol solidaritas kelompok. Harga diri kelompok juga menjadi hal yang utama selain harga diri pribadi. Kata siri dalam bahasa Bugis memiliki arti rasa malu (harga diri), sedangkan Pacce atau Pesse artinya tidak tega/kasihan. Sehngga konsep siri na Pacce mewakili empati dan solidaritas kelompok dalam menanggung harga diri bersama. Terdapat 4 bentuk konsep siri dalam adat suku Bugis, yaitu : Siri Ripakasiri, Konsep siri ini berkaitan dengan harga diri pribadi dan keluarga. Siri yang satu ini merupakan siri yang pantang untuk dilanggar, karena taruhannya adalah nyawa. Anggota keluarga yang menghancurkan kehormatan keluarga, bisa diambil nyawanya oleh anggota keluarga yang lain. Siri Mappakasiri siri, Siri yang satu ini berhubungan dengan etos kerja. Terdapat pepatah orang bugis yang mengatakan “Narekko degaga siri mu, inrengko siri.” Artinya, kalau tidak punya malu maka pinjamlah kepada orang yang masih memiliki rasa malu (Siri’). Begitu pula sebaliknya, “Narekko engka siri’mu, aja’ mumapakasiri’-siri.” Artinya, kalau Anda punya malu maka jangan membuat malu (memalukan). Konsep ini mendorong orang suku Bugis senantiasa menjaga perilaku kerjanya agar tidak membuat harga diri menjadi turun. Siri Tappela Siri (Teddeng Siri), Yaitu rasa malu seseorang yang hilang karena sesuatu hal. Misalkan seseorang yang telah membuat kesepakatan atau janji dengan orang lain kemudian ia tidak dapat menepati kesepakatan atau janjinya tersebut, maka dia dikatakan sudah kehilangan harga diri. Atau dengan kata lain dia sudah mempermalukan dirinya sendiri. Siri Mate Siri, Yakni rasa malu yang berkaitan dengan iman seseorang. Bagi orang suku Bugis orang yang sudah mate siri nya atau sudah mati rasa malunya maka orang seperti ini sudah tidak ada harganya lagi. Orang yang sudah mati harga dirinya seperti ini biasa dikatakan seperti bangkai hidup. sumber : http://www.netralnews.com/news/rsn/read/105938/mengenal-kebudayaan-daerah-4-suku-di-sulawesi-selatan dan https://ilmuseni.com/seni-budaya/kebudayaan-suku-bugis


Budaya Lainnya

TONG TONG

Alat musik tong tong Sama – sama berasal dari Madura, Tong – Tong atau kentongan berfungsi sebagai alat untuk membangunkan para warga yang sedang [...]

Baca Selengkapnya

I Rawang Kaca Kamummu

Alkisah pada zaman dahulu kala, ada sepasang suami isteri yang sudah bertahun-tahun menikah tetapi masih belum dikaruniai seorang anak. Namun walaupun [...]

Baca Selengkapnya

Suku Tionghoa

Tionghoa Jawa (atau China Jawa) adalah etnis Tionghoa yang tinggal di Pulau Jawa, Indonesia. Pada awalnya, daerah yang pertama didatangi oleh para per [...]

Baca Selengkapnya

Pura Kerti Bhuana

Pura Kerti Bhuana - Bandar Lampung merupakan tempat persembahyangab umat hindu yang berada di Lampung. Pura ini dijadikan pura pusat bagi umat hindu s [...]

Baca Selengkapnya
Komentar
Komentar masih kosong. Jadikan diri anda sebagai komentar pertama.
Berikan Komentar