BudayaDetail Budaya

Sisingaan Jawa Barat Seni Pertunjukan

2018-12-11 00:24:47
| | |
Share:

Sisingaan merupakan salah satu kesenian pertunjukan tari yang berasal dari Kota Subang, Jawa Barat. Kesenian ini menggunakan tandu sebagai sarana pertunjukannya. Lahirnya kesenian sisingaan ini bermula pada masa kolonial penjajahan, dimana saat itu daerah Subang dijajah oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Kesenian Sisingaan dinilai banyak kalangan sebagai bentuk pemberontakan serta perlawanan karena rasa ketidakpuasan warga pribumi terhadap pemerintah Hindia Belanda saat itu. Kesenian Sisingaan diciptakan pada tahun 1975 oleh seniman sunda. Awal mula Sisingaan diciptakan karena pada masa itu, masyarakat Subang kedatangan kaum urban dari Ponorogo yang membawa seni Reog Ponorogo. Para seniman sunda pada masa itu akhirnya melakukan diskusi dimana mereka menyimpulkan bahwa Reog Ponorogo mampu menarik perhatian dan memiliki nilai filosofi serta catatan sejarah melawan kolonial Belanda. Maka dari itu akhirnya para seniman Sunda menciptakan sebuah kesenian yang mampu membawa nama Subang. Sisingaan diilhami memiliki cerita yang sama dengan dengan reog, yaitu menceritakan tentang perjalanan para pengawal raja singa barong menuju kerajaan Lodaya. Meskipun sang raja sangat angkuh, tetapi sang pengawal tetap setia untuk terus memikul tandu milik sang raja beristirahat. Secara filosofi, para pemikul tandu ini dilambangkan sebagai rakyat pribumi yang terjajah dan tertindas serta singa yang mereka pikul umpama Belanda dan Inggris (VOC) yang menjajah Indonesia. Sisingaan dimainkan oleh 8 orang pemikul tandu, 2 sisingaan, penunggang sisingaan, pengiring musik dan juru kawih. 1 tandu dimainkan oleh 4 orang pemikul tandu dan seorang anak kecil yang duduk diatas singa buatan. Alasan penunggang sisingaan anak-anak, agar nantinya generasi muda harus mampu untuk mengusir para penjajah dari Indonesia. Pola penyajian dari pertunjukan sisingaan ini adalah tatalu, kidung, sajian Ibingan, atraksi atau demo, dan ditutup dengan musik keringan. Alat musik yang dijadikan pengiring dalam pertunjukan ini cukup banyak, diantaranya kendang, kulanter, bonang, terompet, gong, kempul serta kecrek dan semua alat musik dimainkan sambil berdiri, digotong dan diikatkan ke tubuh. Pertunjukan sisingaan juga memiliki berbagai makna didalamnya, yaitu : a. Makna sosial Masyarakat sunda percaya bahwa kesenian rakyat memiliki peran penting dalam hidupnya. b. Makna Teatrikal Sisingaan sudah jelas memiliki kesan teatrikal selama pertunjukan, ditambah saat ini kesenian sisingaan ditambah dengan acara-acara lainnya. c. Makna Komersial Sudah dapat dipastikan bahwa kesenian Sisingaan mampu untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Sunda. Pasalnya saat ini kesenian Sisingaan mulai dikenal oleh berbagai kalangan, sehingga kemungkinan kesenian ini sering dipanggil untuk menghibur di acara hajatan ataupun khitanan. d. Makna Universal Disebut dengan makna universal karena setiap etnik dan bangsa seringkali mempunyai pemujaann terhadap singa. Biarpun di Jawa Barat tidak ada singa, tetapi singa dapat muncul dimana saja dan diterima seperti konsep kerkayatan pada Sisingaan. e. Makna Spiritual Kesenian Sisingaan biasa ditampilkan dalam acara hajatan atau khitanan. Masyarakat juga mempercayai bahwa sisingaan menjadi simbol keselamatan atau syukuran. Sumber : http://www.infobudaya.net/2017/09/mengenal-kesenian-sisingaan-khas-jawa-barat/


Budaya Lainnya

Aksara Kaganga (Tulisan Ulu)

Di Sumatera bagian selatan, khususnya di Sumatera Selatan, aksara kaganga dikenal dengan nama tulisan ulu dalam wilayah pedalaman Batanghari Sembilan [...]

Baca Selengkapnya

Ikan Bulalao

Ikan Bulalao (Liza dussumieri) adalah spesies ikan yang berhabitat di air laut. Ikan ini memiliki bentuk yg kecil memanjang. Ikan ini biasanya banyak [...]

Baca Selengkapnya

Tanaman Khas Kota Wonosobo, Dieng

Tanaman khas dieng yang memiliki nama latin Vasconcellea Cundinamarcencis yang sering disebut dengan pepaya Dieng ini merupakan tanaman yang tumbuh su [...]

Baca Selengkapnya

pakaian adat suku kali

Suku Kaili adalah suku mayoritas di Provinsi Sulawesi Tengah yang mendiami Kabupaten Donggala, Sigi, Parigi-Moutong, Tojo-Una Una, Kabupaten Poso, dan [...]

Baca Selengkapnya
Komentar
Komentar masih kosong. Jadikan diri anda sebagai komentar pertama.
Berikan Komentar