BudayaDetail Budaya

Rumah Tradisional Suku Bugis Makassar Rumah Tradisional

2018-12-21 11:42:32
| | |
Share:

Suku Bugis Makassar juga mempunyai pandangan sendiri terhadap nilai-nilai estetis dan filosofis yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Hal tersebut salah satunya tercermin dari cara masyarakat Bugis Makassar dalam membangun rumah. Rumah masyarakat Bugis menyerupai anatomi tubuh manusia dan menempati area persegi, yang mereka percayai sebagai alam semesta (sulapak appak). Anatomi rumah tradisional Suku Bugis Makassar terinspirasi tiga bagian tubuh manusia yang terdiri dari bagian bawah (siring atau kolong), dunia bagian tengah (kale balla atau badan rumah), dan dunia bagian atas (pammakkang atau loteng). Siring atau kolong dianalogikan sebagai tempat kotor dan hina karena berada di bagian paling bawah rumah. Pada umumnya, bagian ini difungsikan oleh masyarakat tradisional untuk menyimpan ternak dan alat-alat bertani atau melaut. Tapi pada masa dulu, bagian ini oleh para bangsawan difungsikan sebagai tempat tinggal budak atau tempat menahan tahanan kerajaan. Kale balla, yang dalam bahasa Makassar berarti inti rumah, merupakan tempat kegiatan para penghuni berlangsung. Di bagian inilah proses perencanaan dan tata kelola kehidupan berada. Kale balla bisa terdiri dari berbagai petak. Bagi masyarakat kelas menengah, petak pada kalle balla dibatasi hanya tiga, yaitu ruang depan, tengah, dan belakang. Sementara, pammakang merupakan bagian atas dari rumah. Dalam bahasa Makassar, pammakang berarti sesuatu hal yang menyenangkan. Bagian ini umumnya digunakan untuk menyimpan hasil panen serta benda-benda kerajinan seperti tikar dan alat-alat tenun. Secara ideologis, pammakkang bisa bermakna sesuatu yang sakral dan mengandung nilai-nilai spiritual karena menempati posisi yang paling tinggi dari bagian rumah. Selain bagian yang ada pada suatu rumah, struktur bangunan rumah Suku Bugis Makassar pun menunjukkan stratifikasi sosial orang yang menempatinya. Hal tersebut terlihat dari jumlah susunan timba silla/tambulayang. Semakin banyak susunan timba silla, menunjukkan semakin tinggi derajat orang yang menempati rumah tersebut. Susunan timba silla terbagi dalam lima jenis, yaitu timba silla lanta' lima (5 susun). Susunan ini khusus digunakan untuk istana raja. Tamba silla lanta' appa (4 susun), yang biasa diperuntukkan bagi kalangan karaeng atau bangsawan. Tamba silla lanta' tallu (3 susun), yang khusus digunakan oleh keturunan karaeng. Tamba silla lanta' rua (2 susun), yang biasa digunakan oleh masyarakat umum. Yang terakhir, timba silla lanta' se're (1 susun). Susun seperti ini biasa digunakan oleh kalangan hamba sahaya. [AhmadIbo/IndonesiaKaya] Sumber : https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/membedah-rumah-tradisional-suku-bugis-makassar


Budaya Lainnya

Roti Jala Santan Durian - Makanan Tradisional Khas Riau

Roti jala merupakan makanan tradisional khas Melayu. Makanan ini tidak hanya ada di Riau, tetapi juga ada di Sumatera Utara, Semenanjung Malaysia, dan [...]

Baca Selengkapnya

Makam Raja Bulango

Makam Raja Bulango terletak di Desa Kramat, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango. Sekitar 20 km dari ibukota. Akses menuju makam ini bisa ditempuh s [...]

Baca Selengkapnya

Lambang Kabupaten Bangkalan-JawaTimur

Lambang daerah kabupaten bangkalan ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 1971. Lambang Daerah melukiskan suatu keadaan Daerah Kabupate [...]

Baca Selengkapnya

Tari Iswara Gandrung

Konon tari ini terinspirasi dari kisah cinta Nyi Roro Kidul. Gerakan-gerakan disajikan dalam tari jaipong khas Jawa Barat namun terdapat nuansa kerato [...]

Baca Selengkapnya
Komentar
Komentar masih kosong. Jadikan diri anda sebagai komentar pertama.
Berikan Komentar