BudayaDetail Budaya

Rumah Adat Ma'Lihe atau Potiwaluya Rumah Tradisional

2018-12-25 10:35:08
| | |
Share:

Rumah Adat Ma’lihe atau Rumah Adat Potiwoluya merupakan rumah adat yang digunakan sebagai tempat tinggal penduduk Gorontalo. Dalam bahasa Gorontalo Ma’lihe berarti mahligai. Rumah Adat Ma’lihe ini berupa rumah panggung yang membentuk bujur sangkar atau persegi empat yang ditopang oleh pilar dengan tinggi pilar satu sampai empat meter. Atap rumah adat Ma’lihe ini juga berbentuk persegi panjang, tampak depan atap (watopo) membentuk segitiga dan tampak samping atap membentuk jajar genjang. Bahan atap menggunakan daun rumbia dan bahan dinding rumah menggunakan bambu yang dibelah dan dianyam. Bangunan ini memiliki kamar tidur, ruang tamu, dapur dan serambi dan setiap kamar dilengkapi jendela. Pembangunan tempat tinggal penduduk Gorontalo ini juga dibangun melalui prinsip hidup penduduk Gorontalo. Pengukuran ketinggian, panjang dan lebar rumah dilakukan dengan aturan tertentu yaitu, aturan 1 depa dikurangi 1 jengkal hasil pengurangan dibagi 8. Angka 8 digunakan karena menggambarkan keadaan yang selalu terjadi pada diri manusia, yaitu rahmat, celaka, untung, rugi, kelahiran, kematian, umur dan hangus. Ruangan bagian dalam bangunan berbentuk segiempat yang menggambarkan empat kekuatan alam yakni air, api, angin, dan tanah. Saat baru dibangun rumah hanya boleh memiliki 3 kamar terlebih dahulu, setelah ditinggali baru boleh dibangun kamar tambahan. Hal ini menggambarkan kepercayaan penduduk gorontalo tentang 3 tahapan keadaban manusia yakni bermula dari tidak ada, ada dan berakhir dengan tiada (alam rahim, alam dunia, dan alam akhirat). Pembagian kamar tidur pun memiliki aturan tertentu dimana kamar anak laki-laki dibangun di bagian depan dan kamar anak perempuan di bagian belakang. Selain itu terdapat pula aturan penerimaan tamu ke dalam ruang tamu. Tamu pria hanya boleh diterima di serambi atau teras sedangkan tamu wanita harus masuk ke dalam ruang tamu. Hal ini sesuai dengan syariat islam yang dipegang oleh para penduduk Gorontalo untuk menghindarkan bertemunya pria dan wanita yang bukan mahramnya. Penduduk Gorontalo memiliki kepercayaan mengenai posisi kamar berjejer kebelakang atau posisi bersilang dengan posisi kamar tidur utama berada pada sisi kanan pintu masuk rumah, yaitu bila pemilik rumah pergi dari rumah, ia akan tetap ingat untuk pulang. Selain itu arah kamar dibuat sesuai arah aliran sungai, hal ini dipercaya bisa mendapatkan rejeki yang terus mengalir seperti derasnya aliran air sungai. Posisi dapur dan bangunan utama dipisahkan oleh sebuah jembatan. Pemisahan ini dilakukan karena dapur merupakan rahasia pemilik rumah, sehingga setiap tamu yang berkunjung tidak boleh melewati jembatan tersebut. Selain itu posisi dapur tidak boleh mengarah ke arah kiblat, karena penduduk jaman dahulu percaya rumah akan menjadi mudah terbakar. sumber dari: https://tradisinuswantoro.blogspot.com/2016/02/4-rumah-adat-provinsi-gorontalo.html https://www.budayanusantara.web.id/2018/05/penjelasan-lengkap-rumah-adat-gorontalo.html


Budaya Lainnya

Asal Usul Sungai Landak (Cerita Rakyat Kalimantan Barat)

Dahulu kala, hidup seorang petani bersama isterinya. Walaupun tidak kaya, mereka suka menolong orang lain. Suatu malam, petani sedang duduk di temp [...]

Baca Selengkapnya

Tambang Timah di Kepulauan Bangka Belitung.

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan penghasil timah terbesar di dunia. Bahkan pulau Bangka Belitung telah melayani dunia selama tiga abad. Se [...]

Baca Selengkapnya

Alat musik tradisional Sulawesi Tengah lalove

Lalove termasuk alat musik tradisional yang ditiup dan digunakan untuk mengiringi tari-tarian daerah atau adat tertentu saja. Alat musik ini berwujud [...]

Baca Selengkapnya

Pulau Laut

Pulau Laut adalah sebuah pulau di kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Kesultanan Banjar menamakannya Laut-Pulo, sebagai daerah yang berlawanan ara [...]

Baca Selengkapnya
Komentar
Anggun Amartya

thanks for the info

Berikan Komentar