BudayaDetail Budaya

Rebana - Kesenian Daerah Kepulauan Riau Seni Pertunjukan

2018-09-25 10:57:50
| | |
Share:

Rebana adalah salah satu bentuk kesenian yang digemari oleh masyarakat Lingga Kesuksesan Rebana pada umumnya berkembang sebagai kegiatan ekstrakulikuler remaja dan masjid-masjid atau surau-surau sehingga kemudian, Rebana di identikkan dengan kegiatan agamis. Rebana adalah bentuk Ensambel musik perkusif yang umumnya membranofon, hal ini terlihat misalnya pada jumlah instrument Rebana yang sangat dominan. Selain instrument Rebana, peranan tamborin tanpa membran juga sangat penting dalam memperkaya pola ritmis Rebana. Melihat segala pola permainan, dapat dipahami bahwa ensambel Rebana lebih merupakan suatu permainan musik ritmis perkusif yang fungsi musikalnya sebagai pengiring lagu. Lagu-lagu biasa yang dimainkan adalah lagu-laggu bernuansa islami, seperti halnya pada musik qasidah dan gambus. Sebagian juga mengambil lagu-laguu yang liriknya biasanya biasa terdapat dalam kitab Al-Barzanji, khususnya berupa sholawat . Para pemain dari Ensambel ini umumnya adalah wanita, terutama remaja putri dan ibu-ibu PKK. Pemain instrument dapat berperan juga sebagai vokalis, khususnya sebagai koor dari nyanyian. Umumnya mereka terdiri dari enam hingga sepuluh orang. Penyajian Rebana banyak berperan pada fungsi hiburan saat perhelatan nikah kawin, malam berinai, atau juga saat menghantar calon mempelai wanita dalam profesi belimau atau tepung tawar. Fungsi hiburan ini misalnya pada malam berinai lebih merupakan sebagai pemenuhan suasan yang meriah untuk menemani calon wanita dalam menghadapi saat-saat menjadi pengantin baru. Pada saat malam berinai rebana disajikan tepat disaat persiapan berinai mempalai wanita dilaksanakan. Dalam suasana yang ceria tersebut rebana ditabuhkan dengan beberapa nyanyian. Terlihat dalam penampilannya secara santai dan tidak formal. Hal ini semakin terllihat misalnya, penabuh Rebana dapat saja bersenda gurau dengan calon mempelai yang sedang dicecahi inai, dan semuanya yang terlibat terlihat secara suka-suka menikmatinya. Para penabuh dan penyanyi biasanya satu kelompok yang tergabung, namun demikian dapat saja yang lainnya secara spontan berperan untuk terlibat. Permain ensambel rebana berakhir sesuai dengan upacara berinai berakhir. Saat ini sanggar rebana yang masih bertahan di Lingga adalah Sanggar Syallu Rabbuna di Daik Lingga, di bawah pimpinan Apan. (Sumber : http://disbud.kepriprov.go.id/rebana/)


Budaya Lainnya

Bikang

Kue Bikang merupakan makanan khas Sulawesi Barat mirip dengan serabi. Bahan utamanya berupa tepung beras serta santan. Kue dibentuk seperti mawar sehi [...]

Baca Selengkapnya

Alat musik tradisional Sulawesi Tengah Tatali

Tatali merupakan alat musik tradisional dari Sulawesi Tengah yang menyerupai Suling. Tatali dimainkan dengan cara ditiup dan alat musik ini merupakan [...]

Baca Selengkapnya

Lambang Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat

Kabupaten Kapuas Hulu adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Kalimantan Barat. Ibu kota kabupaten ini terletak di Putussibau yang dapat ditem [...]

Baca Selengkapnya

Kisah Tujuh Anak Pria

Alkisah di Aceh ada sepasang suami istri yang mempunyai tujuh anak laki-laki, suatu waktu, musim kemarau panjang melanda kampung mereka. Banyak tumbuh [...]

Baca Selengkapnya
Komentar
Komentar masih kosong. Jadikan diri anda sebagai komentar pertama.
Berikan Komentar