BudayaDetail Budaya

Puri Agung Pacekan Keraton / Kerajaan

2018-12-16 04:00:31
| | |
Share:

Keraton sebagai pusat pemerintahan yang diberi nama Puri Gede Jembrana dibangun pada awal abad XVII oleh I Gusti Made Yasa (penguasa Brangbang). Raja I yang memerintah di keraton (Puri) Gede Agung Jembrana adalah I Gusti Ngurah Jembrana. Selain keraton, diberikan pula rakyat pengikut (wadwa), busana kerajaan yang dilengkapi barang-barang pusaka berupa tombak dan tulup. Demikian pula keris pusaka yang diberi nama “Ki Tatas” untuk memperbesar kewibawaan kerajaan. Tercatat bahwa ada tiga orang raja yang berkuasa di pusat pemerintahan yaitu di Keraton (Puri) Agung Jembrana. Sejak kekuasaan kerajaan dipegang oleh Raja Jembrana, I Gusti Gede Seloka, Keraton (Puri) baru sebagai pusat pemerintahan dibangun. Keraton (Puri) yang dibangun itu diberi nama Puri Agung Negeri pada awal abad XIX. Kemudian lebih dikenal dengan nama Puri Agung Negara. Patut diketahui bahwa raja-raja yang memerintah di Kerajaan Jembrana berikutnya pun memusatkan birokrasi pemerintahannya di Keraton (Puri) Agung Negara. Patut dicatat pula bahwa ada dua periode birokrasi pemerintahan yang berpusat di Keraton (Puri) Agung Negara. Periode pertama ditandai oleh birokrasi pemerintahan kerajaan tradisional yang berlangsung sampai tahun 1855. Telah tercatat pada lembaran dokumen arsip pemerintahan Gubernemen bahwa kerajaan Jembrana yang otonom diduduki oleh Raja Jembrana V (Sri Padoeka Ratoe) I Goesti Poetoe Ngoerah Djembrana (1839 – 1855). Ketika berlangsung pemerintahannyalah telah ditandatangani piagam perjanjian persahabatan bilateral anatara pihak pemerintah kerajaan dengan pihak pemerintah Kolonial Hindia Belanda (Gubernemen) pada tanggal 30 Juni 1849. Periode kedua selanjutnya digantikan oleh birokrasi modern, melalui tata pemerintahan daerah (Regentschap) yang merupakan bagian dari wilayah administratif Keresidenan Banyuwangi. Pemerintahan daerah Regentschap yang dikepalai oleh seorang kepala pribumi (Regent) sebagai pejabat yang dimasukkan dalam struktur birokrasi Kolonial Modern Gubernemen yang berpusat di Batavia. Status pemerintahan daerah (Regentschap) berlangsung selama 26 tahun (1856 – 1882). Pada masa pemerintahan Raja Jembrana VI, I Gusti Ngurah Made Pasekan (1855 – 1866), terjadi dua kali peralihan status yaitu 1855 – 1862 sebagai Raja Jembrana dan 1862 – 1866 sebagai status Regent (Bupati) dengan kedudukan kerajaan berada di Puri Pacekan Jembrana. Kerajaan Djembrana berkembang sesuai eranya dan menjadi kabupaten Jembrana sebagai bagian integral propinsi Bali menurut Undang Undang nomor 64 tahun 1958 tanggal 14 Agustus 1958 tentang pemekaran propinsi Sunda Kecil / Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Sumber : http://diangiri.blogspot.com/2016/08/kerajaan-puri-agung-pacekan-jembranabali.html


Budaya Lainnya

Kebudayaan Daerah Jawa Barat

Jawa Barat memilki kebudayaan keunikan tersendiri yang dijadikan ciri khas penduduk setempat. Rumah adat Jawa Barat sendiri memiliki dua jenis rumah a [...]

Baca Selengkapnya

Keris Lampunqg

Senjata tradisional Keris di Lampung disebut dengan punduk/tekhapang. Keris yang ada di Lampung ini sangat dipengaruhi kebudayaan kerjaan di Pulau Jaw [...]

Baca Selengkapnya

Baju Upak Nyamu Kalimantan Tengah

Baju ini merupakan baju dibuat dari bahan yang sama dengan bahan pembuatan rompi sangkarut khas pakaian adat Kalimantan Tengah, yakni dari kulit kayu [...]

Baca Selengkapnya

Dadap Serep

Dadap serep atau Erythrina orientalis merupakan salah satu pohon yang terdapat di kota Magelang. Pohon dadap serep merupakan pohon yang memiliki ukura [...]

Baca Selengkapnya
Komentar
Komentar masih kosong. Jadikan diri anda sebagai komentar pertama.
Berikan Komentar