BudayaDetail Budaya

Penangkaran Buaya Juwata Habitat / Ekosistem

2018-09-23 09:34:14
| | |
Share:

Penangkaran buaya dibuat untuk mengembangbiakkan dan membesarkan buaya yang kemudian dipanen untuk diambil produknya. Kadang istilah peternakan juga digunakan untuk merujuk kepada penangkaran buaya. Produk yang bisa diperoleh dari buaya adalah daging, kulit, dan berbagai material lainnya seperti gigi. Banyak spesies buaya yang telah dikembangbiakkan di penangkaran. Sebagian besar karena regulasi di negara tersebut yang melarang penangkapan buaya liar. Jadi cara untuk memperoleh produk dari buaya secara legal adalah dengan melalui penangkaran. Salah satu dari penangkaran buaya semacam ini terdapat di Kota Tarakan, Kalimantan Selatan, yaitu Penangkaran Buaya Juwata (PBJ). Buaya yang dikembangbiakkan di PBJ adalah dari jenis buaya sinyulong dengan nama latin Tamistoma scheillius dan juga buaya siam dengan nama latin Crocodilus siamensis. 1 jenis lain buaya yang ditangkarkan disini adalah Crocodilus novaeguineae atau yang lebih dikenal dengan sebutan buaya muara. Ketiga jenis buaya ini banyak ditemukan di wilayah sekitar perairan sungai Kalimantan Timur. Dimulai dari hanya beberapa ekor buaya hingga menjadi ribuan buaya yang ditampung di lahan PBJ seluas 5 hektar. Karena jumlah buaya yang begitu banyak, akhirnya hal ini menarik banyak wisatawan untuk datang. Sehingga PBJ mempunyai fungsi sebagai salah satu objek wisata di Tarakan selain selain fungsi utamanya sebagai tempat pengembangbiakan buaya. PBJ dibuka setiap harinya mulai dari pagi hingga sore hari. Disini pengunjung bisa melihat ribuan buaya yang ditangkarkan. Mulai dari yang masih kecil hingga yang ukurannya siap untuk dibuat menjadi produk olahan. Buaya ini dibagi menjadi beberapa kelompok berbeda berdasarkan umur. Setiap kelompok dipisahkan dalam kolam yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk memastikan agar sebagian besar buaya kecil dapat hidup hingga dewasa. Dengan menghilangkan kompetisi dari buaya yang lebih besar karena dipisahkan dalam kolam yang berbeda. Di alam liar, hanya sebagian kecil dari buaya yang menetas berhasil hidup hingga dewasa. Karena banyaknya predator yang memangsa bahkan ketika buaya masih berupa telur. Biasanya predator yang sering memangsa telur buaya adalah ular. Tapi di PBJ tidak ada predator yang bisa memangsa buaya hidup-hidup. Buaya disini paling sering mati bukan karena dimangsa predator, namun karena pengelola PBJ yang ingin memanen buaya mereka. sumber:http://andrarifaldi.blogspot.com/2016/01/penangkaran-buaya-juwata-tarakan.html


Budaya Lainnya

Taman Nasional Bukit Barisan ,Lampung

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan adalah sebuah taman nasional yang ditujukan untuk melindungi hutan hujan tropis pulau Sumatra beserta kekayaan al [...]

Baca Selengkapnya

Mentilin, Fauna Khas Bangka Belitung

Mentilin merupakan salah satu jenis tarsius di Indonesia. Nama latin binatang ini adalah Tarsius bancanus Horsfield, 1821 yang bersinonim dengan Tarsi [...]

Baca Selengkapnya

Lambang Kabupaten Sumba Barat

Lambang Kabupaten Sumba Barat berbentuk perisai umum bersisi lima, di dalam perisai tersebu ada banyak simbol simbol yang memiliki arti penting. Binta [...]

Baca Selengkapnya

Alat musik tradisional Sulawesi Tengah paree

Alat musik tradisional Pare’e terbuat dari bambu yang dibelah dan salah satu bagian ujungnya dijadikan runcing seperti paruh burung karena salah sat [...]

Baca Selengkapnya
Komentar
Komentar masih kosong. Jadikan diri anda sebagai komentar pertama.
Berikan Komentar