BudayaDetail Budaya

Motif Rote Motif Kain

2018-09-06 09:48:29
| | |
Share:

Motif rote merupakan salah satu motif kain ikat yang ada di provinsi Nusa Tenggara Timur tepatnya di Pulau Rote. Motif-motif yang terbentuk pada kain ini terbentuk karena adanya teknik pewarnaan. Ciri khas warna tenunan Rote yaitu hitam dan putih. Cara mewarnainya dengan bahan-bahan alami yang unik. Orang Rote sudah dapat menghasilkan warna tenunan yang tidak luntur dengan ramuan yang disebut Pama`a. Pama`a adalah air rendaman abu dari kulit buah nitas yang dibakar. Untuk menghasilkan warna hitam, benang direndam dalam Pama’a, kemudian direndam dalam lumpur di danau tempat berkubangnya kerbau. Benang tersebut direndam di lumpur yang dalam dan ditinggal selama berbulan-bulan hingga akhirnya menjadi warna hitam. Seiring dengan perkembangan zaman, sebelum adanya bahan-bahan pewarna sintetik, orang Rote memodifikasi warna motif tenun ikatnya dengan warna orange dan biru. Orange dihasilkan dari pohon mangkudu (akar mangkudu ditumbuk halus kemudian direndam bersama-sama benang), sedangkan warna biru dihasilkan dari pohon nila / tauk (daun nila dicampurkan dengan garam dan diaduk2 dalam air hingga menjadi biru, kemudian airnya tersebut digunakan untuk merendam benang). Mulai tahun 1940an, pekerjaan menenun mulai diajarkan kepada rakyat biasa (non keluarga raja). Setiap gadis yang akan menikah harus dapat menenun. Biasanya kemampuan menenun si gadis diuji menjelang upacara peminangan (masominta), jika si gadis belum dapat menenun maka pernikahan tersebut harus ditunda bahkan dibatalkan. Tingkat kehormatan si gadis dinilai dari berapa banyak kain tenun yang dibuatnya sebelum menikah. Semakin banyak kain yang dimiliki semakin tinggi nilai gadis tersebut bagi keluarga pria. Rakyat biasa diperbolehkan menggunakan kain tenun, tetapi dilarang keras menggunakan motif Raja (motif asli). Jika kedapatan rakyat biasa menggunakan kain tenun yang ada motif rajanya maka saat itu juga kain tersebut harus dimusnahkan (dicincang dan dibakar). Motif Raja dianggap hal keramat dan sangat dihormati oleh rakyat biasa. Ketika semakin banyak wanita di pulau Rote dan Ndao dapat menenun, didukung dengan mulai adanya benang dan pewarna dari pabrik, pekerjaan tenun mulai ditinggalkan oleh masyarakat di Pulau Rote. Mereka lebih fokus pada pekerjaan bercocok tanam dari pada menenun kain. Hanya kaum wanita Pulau Ndao saja yang tetap melakukan pekerjaan tenun. Mereka biasanya duduk di halaman rumah dan seharian membuat tenun ikat, sedangkan kaum pria bekerja keras di luar rumah untuk mendapatkan makanan. Oleh karena itu, masyarakat Rote member julukan bagi orang Ndao “ Tou Ndao Loi-loi, Ina Ndao Na`a Mu`dak “ artinya “ pria Ndao membanting tulang (bekerja keras di luar), Perempuan Ndao berpangku tangan (makan gampang). Hingga saat ini, pekerjaan tenun hanya dikuasai oleh perempuan-perembuan Ndao. Jarang sekali ditemukan perempuan Rote yang dapat menenun. Industri tenun ikat terus berkembang, menggunakan alat yang lebih modern, bahan-bahan yang instan dan proses yang lebih cepat. Perkembangan zaman menjadikan tenun ikat lebih modern dan nilai-nilai budayanya semakin pudar. Motif-motif terus dimodifikasi dan warna-warnanya pun mulai berkembang luas, tidak hanya hitam dan putih. Tenun ikat kini tidak hanya digunakan pada upacara adat atau sebagai upeti, tetapi berkembang luas menjadi kain fashion, souvenir budaya dan lain-lain. (Sumber: http://ataupahfamzz.blogspot.com/2012/05/about-tenun-ikat-pulau-rote.html)


Budaya Lainnya

Tari Blunde/Blundik

Tari Blunde atau Blundik adalah tarian tradisional Bulungan Kalimantan Utara. Blunde atau blundik merupakan tari tradisional bulungan yang sudah hampi [...]

Baca Selengkapnya

cerita rakyat lampung

Ada empat bersaudara bernama Ompung Silamponga, Ompung Silitonga, Ompung Silatoa, clan Ompung Sintalaga yang berusaha pergi menyelamatkan diri dari Ta [...]

Baca Selengkapnya

Sulawesi Tengah Danau Poso

Danau Poso Tidak seperti danau pada umumnya, danau Poso memiliki hamparan pasir putih di tepi danau. Pasir putih ini sampai-sampai menutupi tepi danau [...]

Baca Selengkapnya

Tari Hopong

Tari Hopong merupakan tari tradisional yang digunakan sebagai tari ritual untuk mengungkapan rasa syukur pada Tuhan dan lelur mereka ketika. Selain se [...]

Baca Selengkapnya
Komentar
Komentar masih kosong. Jadikan diri anda sebagai komentar pertama.
Berikan Komentar