BudayaDetail Budaya

Mesjid Penyengat Masjid (BCB)

2018-09-07 14:18:02
| | |
Share:

Masjid ini didirikan pada tanggal 1 Syawal 1249 H (1832 M), atas prakarsa Raja Abdurrahman, Yang Dipertuan Muda Riau VII. Pelaksanaan pembangunannya melibatkan seluruh lapisan masyarakat di kerajaan Riau, yang bekerja siang malam secara bergiliran. Di dalam masjid, tersimpan kitab-kitab kuno (terutama yang menyangkut agama Islam), bekas koleksi perpustakaan yang didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf al Ahmadi, Yang Dipertuan Muda Riau X. Benda menarik lain yang terdapat dalam masjid adalah mimbar indah dan kitab suci al-Quran tulisan tangan. Lokasi Masjid ini terletak di Pulau Penyengat Indera Sakti, Kecamatan Tanjung Pinang Barat, Kepulauan Riau, Indonesia. Pulau Penyengat berukuran sekitar 2×1 km, berjarak sekitar 2 km dari Tanjung Pinang, dengan jarak tempuh sekitar 15 menit dengan perahu motor. Masjid Sultan Riau ini terletak di pelataran. Kemungkinan, lokasi tersebut bekas bukit kecil yang diratakan, dengan tinggi sekitar 3 meter dari permukaan jalan. Untuk naik ke masjid, dibuat tangga yang cukup tinggi. LuasMasjid ini berukuran 18×19,80 m, sementara luas lahannya sekitar 55×33 m. Dari tangga, terdapat jalan setapak pada sumbu tengah dari unit bangunan simetris tersebut. Di halaman kiri dan kanan masjid,ada bangunan berdinding beratap limasan batu. Masyarakat setempat menyebut bangunan kembar tersebut dengan nama sotoh. Tempat ini berfungsi sebagai tempat permusyawaratan para ulama dan cendekiawan. Selain itu, juga terdapat bangunan kembar di sisi kiri dan kanan, masing-masing berbentuk persegi empat panjang. Sisi terpanjangnya sejajar dengan arah kiblat. Kedua bangunan ini semacam gardu, tapi besar dan panjang tak berdinding, mempunyai kolong, dengan konstruksi terbuat dari kayu. Pintu utama masuk masjid berada di tengah, menjorok ke depan seperti beranda (porch) dan diatapi kubah. Di tiap sudutnya terdapat pilaster. Denah dan semua elemen yang ada dalam masjid berada dalam susunan simetris. Atap ruang utama masjid sangat unik, dan menunjukkan adanya pengaruh India, dimana arsiteknya berasal. Secara keseluruhan kubahnya berjumlah 12. Jikaditambah dengan kubah di atas beranda depan pintu masuk utama, maka jumlahnya menjadi 13. Masjid memiliki 4 buah menara, posisinya berada di setiap sudut ruang utama sembahyang. Puncak menara berbentuk sangat runcing seperti pensil.


Budaya Lainnya

Pakaian adat Aceh anak-anak

Pakaian adat Aceh anak juga hampir sama dengan pakaian yang dikenakan dengan orang dewasa. Untuk baju anak pada anak laki-laki warnanya juga sama yait [...]

Baca Selengkapnya

Kerajaan Larantuka

Kerajaan Larantuka adalah sebuah kerajaan yang berada di Nusa Nipa yang berarti Pulau Naga dalam bahasa lokal,[2] sedangkan dalam bahasa Portugis: Cab [...]

Baca Selengkapnya

Festival Iraw Tengkayu - Kalimantan Utara

Festival Iraw Tengkayu adalah upacara tradisional dan perlombaan yang diadakan oleh masyarakat suku Tidung di Tarakan, Kalimantan Utara. Festival ini [...]

Baca Selengkapnya

Flora khas lampung bunga ashar

Bunga ashar dikenal juga sebagai kembang pukul empat atau Four o’clock plant yang dalam bahasa latin disebut Mirabilis jalapa L. Meskipun bunga asha [...]

Baca Selengkapnya
Komentar
Komentar masih kosong. Jadikan diri anda sebagai komentar pertama.
Berikan Komentar