BudayaDetail Budaya

MAKAM RAJA BATU LAYANG PONTIANAK KALIMANTAN BARAT Makam (BCB)

2018-09-19 10:18:10
| | |
Share:

Makam Kesultanan Pontianak di Batu Layang merupakan aset ketiga warisan Kesultanan Pontianak sesudah Istana Kadriah dan Mesjid Sultan Abdurrahman. Konon ketiga lokasi ini mempunyai letak dengan garis lurus dari istana, mesjid dan makam dari arah timur ke barat. Komplek pemakaman ini khusus bagi para Sultan Pontianak dan keluarganya dan bukan untuk umum. Terletak dipinggir sungai Kapuas, pada masa dahulu makam ini hanya dapat dicapai dengan perahu melalui sungai. Kini makam itupun dapat dikunjungi melalui jalan darat pada sisi jalan menuju Jungkat, kira kira 200 meter dari jalan raya. Selain ramai dikunjungi para peziarah, banyak pula wisatawan mengunjungi makam ini untuk mengetahui lebih lengkap tentang riwayat para Sultan Pontianak, dengan segala bukti keberadaannya. Pada awalnya makam ini sebagai makam Sultan Abdurrahman yang wafat pada tahun 1808. Sultan dan kerabatnya telah memilih makam mereka di pinggir sungai Kapuas didaerah Batu Layang. Tidak jelas alasan yang kuat mengapa dipilih tempat pemakaman para Sultan itu dipinggir sungai Kapuas. Kebiasaan raja-raja Jawa atau Sumatera membuat tempat pemakaman disuatu bukit atau disekitar mesjid. Mungkin Sultan Syarif Abdurrahman mempunyai makna khusus yang bernilai sejarah baginya. Pada awal kedatangannya menelusuri muara sungai Kapuas tahun 1771, ia menemukan sebuah pulau ditengah sungai yang kemudian disebut pulau Batu Layang. Ketika ia berhenti di pulau itu, disinilah ia mulai diganggu oleh para “hantu” (Kuntilanak atau Pontianak) menurut dongeng. Tetapi sesungguhnya ia telah diganggu oleh para bajak laut dan perompak yang menghalangi perjalannya memasuki muara sungai Kapuas. Lima malam lamanya ia melawan dan menembaki para bajak laut itu dan akhirnya ia berhasil mengalahkan para bajak laut dan mendarat ditempat dimana kemudian ia mendirikan kerajaan Pontianak. Ditempat awal dimana ia berhasil menghalau gangguan musuhnya bajak laut ditempat bersejarah itu pulalah ia ingin dimakamkan yaitu di komplek Batu Layang. Mengapa di sebut “Batu Layang” belum di dapat keterangan yang jelas. Mungkin waktu Syarif Abdurrahman diganggu perompak ada batu yang dilepar melayang ke perahunya. Di depan Batu Layang terdapat sekelompok batu warna kuning yang konon selalu tumbuh dan menjadi besar. sumber : http://wisatapontianak.com/makam-raja-batu-layang-pontianak-kalimantan-barat/


Budaya Lainnya

Nasi lemak

Masakan tradisional Riau umumnya banyak menggunakan rempah dan santan untuk menghasilkan makanan gulai yang berbumbu, gurih, berlemak, dan kental hi [...]

Baca Selengkapnya

Tari Lulo

Tari Lulo adalah tari tradisional yang berasal dari Tokotua, Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara. Tari Lulo ini dilaksanakan dalam rangka rit [...]

Baca Selengkapnya

Kurak Kariak : Lagu Daerah Bengkulu

Informasi Lagu Kurak Kariak Judul : Yo Botoi Botoi Pencipta : Daerah : Bengkulu Golongan : lagu daerah / lagu wajib daerah Lirik Lagu Kurak Karia [...]

Baca Selengkapnya

Kuskus beruang

Kuskus Beruang adalah marsupial arboreal yang hidup di kanopi hutan hujan tropis. Hampir tidak diketahui status dan keadaan ekologinya. Meskipun ilmuw [...]

Baca Selengkapnya
Komentar
Komentar masih kosong. Jadikan diri anda sebagai komentar pertama.
Berikan Komentar