BudayaDetail Budaya

Makam Bayi Makam (BCB)

2018-12-21 11:46:24
| | |
Share:

Desa Kambira terletak di Kecamatan Sangalla, sekitar 20 kilometer dari Rantepao, ibu kota Kabupaten Tana Toraja. Di tempat ini, ada kompleks kuburan bayi yang disebut Passiliran, dan kini menjadi salah satu obyek wisata yang sering dikunjungi. Hanya bayi yang meninggal dan belum tumbuh gigi yang dikuburkan di sini, tepatnya di dalam sebatang pohon Tarra. Bayi yang belum memiliki gigi dianggap masih suci. Sementara dipilihnya pohon Tarra sebagai kuburan bayi karena jenis pohon ini memiliki banyak getah yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu. Dengan menguburkan bayi di dalam pohon Tarra seolah mengembalikan bayi tersebut ke dalam rahim ibunya. Terselip harapan, bahwa dengan mengembalikan bayi ke rahim ibunya akan menyelamatkan bayi-bayi yang lahir kemudian. Jenazah bayi diletakkan dalam posisi berdiri dengan anggapan bayi juga akan tumbuh di dalam pohon. Pohon Tarra yang menjadi kuburan bayi ini memiliki diameter sekitar 80 – 100 centimeter. Batangnya dilubangi sedemikian rupa agar jenazah bayi bisa dimasukkan dalam posisi berdiri, kemudian lubang tersebut akan ditutup dengan ijuk pohon Enau. Jenazah bayi ditempatkan menghadap ke arah tempat tinggal keluarganya yang berduka. Posisi lubang penempatan jenazah bayi di pohon ini disesuaikan dengan stratasosialnya. Semakin tinggi posisi lubang, menandakan semakin tinggi juga kasta keluarganya. Cara pemakaman seperti ini hanya dilakukan oleh orang Toraja pengikut Aluk Todolo (kepercayaan kepada leluhur). Upacara pemakamannya juga sangat sederhana, dan bayi yang dikuburkan tidak dibungkus dengan apapun, sama seperti bayi yang masih berada di rahim ibunya. Setelah puluhan tahun, lubang pada Pohon Tarra akan tertutup sendiri dan jenazah-jenazah bayi itu akan tetap bersemayam di sana. Dari jauh, pohon ini terlihat seperti penuh dengan tambalan-tambalan berbentuk kotak berwarna hitam. Cara menguburkan bayi seperti ini sudah lama tidak dilaksanakan lagi. Namun, pohon Tarra yang buahnya mirip buah sukun ini masih tetap tegak berdiri dan mempunyai daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Sumber : https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/baby-graves


Budaya Lainnya

Kain Berang: Filosofi Kehidupan Dalam Ikat Kepala Merah Suku Huaulu

Suku Huaulu memiliki satu ciri khas yang cukup mencolok terutama pada kaum laki-laki dewasa. Mereka memiliki tradisi ikat kepala dari kain merah yang [...]

Baca Selengkapnya

Motif Batik Truntum - Jawa Tengah

Motif Truntum diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana (Permaisuri Sunan Paku Buwana III) dari Surakarta Hadiningrat. Motif truntum memiliki makna yang sa [...]

Baca Selengkapnya

Okokan

Kesenian Okokan merupakan gamelan khas yang berasal dari Banjar Belong, Desa Baturiti Kerambitan,Tabanan. kata okokan berasal dari bunyi yang dikeluar [...]

Baca Selengkapnya

Lambang Kabupaten Bondowoso-JawaTimur

Lambang daerah dimaksudkan sebagai cermin untuk memberikan gambaran keadaan daerah. Lambang daerah ini ditujukan untuk menggambarkan kebudayaan, sejar [...]

Baca Selengkapnya
Komentar
Komentar masih kosong. Jadikan diri anda sebagai komentar pertama.
Berikan Komentar