BudayaDetail Budaya

Kuta Bataguh Benteng Kuno Suku Dayak di Kalimantan Tengah Peninggalan Purbakala

2018-09-03 13:18:12
| | |
Share:

Kantor Balai Arkeologi Kalimantan Selatan, serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah, telah mengusulkan sejumlah benteng kuno Suku Dayak Uud Danum dan Dayak Ngaju di Daerah Aliran Sungai (DAS) Katingan, Kabupaten Gunung Mas dan Kabupaten Katingan, dijadikan cagar budaya. Benteng, baik dalam Bahasa Dayak Uud Danum maupun Dayak Ngaju disebut kuta. Sebuah rumah yang dijadikan tempat tinggal, tapi sekaligus sebagai benteng pertahanan. Kuta didisain berupa rumah panjang atau panggung, dikelilingi pagar terbuat dari kayu ulin (eusideroxylon zwageri) setinggi 7 meter ke atas. “Benteng kuno atau kuta kuno ditemukan di sejumlah kecamatan di Kabupaten Katingan, Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah, hasil ekspedisi 15 hari dalam Tahun Anggaran 2014,” kata Gauri Vidya Dhaneswara, anthropolog alumni Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, dalam keterangannya di Palangka Raya, Ibu Kota Provinsi Kalimanan Tengah, Jumat, 28 Juli 2017. Menurut Gauri, kuta ada di antaranya dibangun sekitar 400 Masehi atau 1.700 tahun di Tumbang Lahoi, Kecamatan Rungan, usia sekitar 125 tahun di Tumbang Pajange dan sekitar 600 tahun di Kecamatan Tewah. Sisa bangunan berupa rumah panjang tertata rapi, dikelilingi pagar tinggi, memperlihatkan arsitektur Suku Dayak yang sudah maju pada masa itu. Dikatakan Gauri, penelusuran belasan unit kuta di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah, mengacu kepada cerita lisan Suku Dayak Uud Danum dan Suku Dayak Ngaju. Cerita lisan itu dikenal dengan nama tatum. Tatum menyebutkan, keberadaa kuta menjadi sangat penting pada masanya, untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Kekokohan dan ketenaran sebuah kuta, menggambarkan ketangguhan dan kesaktian penghuninya. Tiap kuta dihuni minimal 20 Kepala Keluarga (KK) dalam satu garis keturunan. Kisah tatum menjadi sangat melegenda di Provinsi Kalimantan Tengah. Dua tokoh tatum cukup populer, yakni Tambun dan Bungai. Pada tahun 1958, nama keduanya diabadikan menjadi nama Komando Daerah Militer (Kodam) XI/Tambun Bungai di Palangka Raya hingga tahun 1974. Keberadaan kuta (dalam Bahasa Dayak Uud Danum disebut Kuhtak), pertama kali diungkap dalam bentuk dokumen tertulis teolog berkebangsaan Jerman, Martin Georg Baier, 2009, “Dari Agama Politeisme ke Agama Ketuhanan Yang Maha Esa, Teologi Sistematika Agama Hindu Kaharingan: Pembahasan Kemajuan Iman dan Kehidupan Agamawi Agama Hindu Kaharingan. Di halaman 144, Martin Georg Baier, menyebut nama salah satu kuta yaitu bataguh. Martin menduga Kuta Bataguh sebagai kota saingan dari Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan. “Jadi pada ratusan tahun lalu tempat itu merupakan pusat perdagangan dan kebudayaan dari Suku Bangsa Dayak,” tulis Martin. Kuta Bataguh, merupakan peninggalan benteng terdekat dari Palangka Raya, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah. Kuta Bataguh (Pematang Sawang) berada di Desa Pulau Kupang, Kecamatan Selat, Kabupaten Kapuas. Kuta Bataguh sekarang berupa reruntuhan dari satu kota luas yang sangat menarik, terletak sekitar delapan kilometer sebelah selatan dari Kuala Kapuas, setelah timur dari Pulau Kupang di kawasan Handel Alai dan Handel Kuta. Tatum mengisahkan heroisme seorang gadis Suku Dayak bernama Nyai Undang, dengan dibantu dua jagoan, Tambun dan Bungai, beranggotakan 500 pasukan, mampu melumpuhkan 6 ribu pasukan Raja Sawang dari Solok, Philipina yang dikenal dengan pertempuan Kuta Bataguh di Pematang Sawang. Dalam pertempuran Bungai memiliki nama samaran Andin Sindai, dan Tambun memiliki nama samaran Anak Tambun Tapak. Pertempuran mempertahankan Kuta Bataguh, menurut Tatum, merupakan pertarungan Nyai Undang melawan Raja Sawang dari Solok, Philipina. Raja Sawang marah, lantaran sebelumnya salah satu saudara laki-lakinya dibunuh komunitas Suku Dayak di Kuta Bataguh, lantaran memaksa menikahi Nyai Undang yang dikenal berparas cantik dan kaya-raya. Dari luar benteng, Panglima Latang, Wakil Raja Sawang mengatakan kedatangan mereka ke Kuta Bataguh untuk menghukum penduduk Kuta Bataguh, agar menyerah tanpa syarat. Rambang, dari perwakilan Suku Dayak, secara damai mengajak untuk berunding serta terlebih dahulu ingin menjelaskan duduk perkaranya, namun ditolak dan mereka lalu kembali ke pencalangnya. Puluhan pencalang mendekat ke tepi dan berlompatanlah ribuan orang bersenjatakan tombak, pedang dengan perisai tembaga: lalu menaiki dinding benteng. Tetapi sampai di atas mereka disambut oleh sebuah mandau yang bagaikan menebas ilalang saja. Ada pula yang jatuh tanpa sempat berteriak lagi terkena anak sumpitan beracun. Beratus-ratus orang memikul sepotong kayu bulat sebesar drum menumbuk pintu benteng berdentung bunyinya namun tidak dapat mereka hancurkan karena pintu benteng (kuta) itu dibuat dari kayu ulin dua jengkal tebalnya. Sementara itu dari atas pintu, menurut Tatum, benteng dijatuhkan batu-batu sebesar buah kelapa disertai dengan hujan anak sumpitan beracun. Menjelang senja, mereka mundur kembali ke pencalangnya. Saat itu juga pintu benteng dibuka, Rambang dan pasukannya mengamuk bagai air dari bendungan yang bobol. Tidak hanya itu, merekapun lalu menaiki pencalang-pencalang itu dan menenggelamkannya. Nyai Undang berdampingan dengan tunangannya, Sangalang, turut berperang yang sengaja mencari Raja Sawang saja. Dengan rambut terurai akhirnya Nyai Undang bertemu juga dengan “Raja Sawang”. Nyai Undang berhasil membunuh raja itu dan membayar sumpahnya ingin rambutnya berkeramas dengan darah Raja Sawang yang dianggapnya penyebab kematian ibunya. Dapat dibayangkan betapa keadaan pertempuran itu, karena hanya dengan kekuatan sekitar 500 orang dapat mengalahkan 6 ribu orang lebih. Dalam sejarah peradaban Suku Dayak Uud Danum dan Dayak Ngaju, dikenal dengan nama kolimoi dan tatum. Kolimoi usia peradabannya lebih tua dari tatum. Kolimoi, mengisahkan kehidupan manusia di alam gaib (khayangan), alam atas, bermukim di hutan belantara dan puncak-puncak bukit (puruk). Tatum mengisahkan peradaban manusia di alam bumi. Dikisahkan, seseorang manusia perempuan yang hidup di alam bumi, bisa hamil dan punya anak, tanpa berhubungan seks, apabila sering berinteraksi dengan manusia berjenis kelamin laki-laki di alam gaib yang hidup di duni atas. Penuturan kolimoi diekspresikan dengan bahasa sastra penuh makna, berkaitan satu sama lain, menyangkut pengungkapan, perilaku dan gaya hidup yang penuh kesantunan, kesopanan, serta rasa penuh hormat dan kujujuran kepada mohotarak danum diang (Yang Maha Kuasa). Kolimoi menceritakan kehidupan manusia di alam gaib yang sangat patuh akan tradisi dan budaya leluhur. Kolimoi mengilustrasikan masing-masing tokoh memiliki kelebihan dan keunggulan masing-masing di jamannya, di dalam memberikan teladan hidup bagi umat manusia di alam bumi. Baik kolimoi maupun tatum, memiliki ratusan dan bahkan ribuan cerita menarik tentang kepahlawanan dan heroisme kehidupan di masa silam para tokoh Suku Dayak. Kolimoi dan tatum, biasanya dituturkan para penutur sastra lisan kalangan Suku Dayak, lebih dari satu malam, di tengah puluhan audiens, sepanjang malam suntuk. Tatum menceritakan kehidupan manusia di alam bumi yang di dalam takaran tertentu, sangat sering berhubungan dengan manusia di alam gaib. Tatum menceritakan keberanian, kejujuran dan ketaatan terhadap adat-istiadat yang mesti diteladani generasi penerus yang dipertahankan sampai sekarang. Tindak kekerasan yang sering mencuat di dalam tatum, seperti peperangan yang merenggut korban jiwa, lebih kepada implikasi interaksi sosial antar manusia Dayak, di mana salah satu pihak, dan atau pihak luar, terbukti melanggar etika, moral, kejujuran dan sopan-santun. Tradisi menjunjung tinggi etika, moral, kejujuran, kesopanan, kesantunan, menjaga kelestarian alam sekitar, menghormati budaya leluhur, sebagian tertuang di dalam dogma atau doktrin Agama Kaharingan yang pemeluknya banyak di kalangan masyarakat Suku Dayak Uud Danum dan Dayak Ngajuk di Provinsi Kalimantan Tengah. Tatum memiliki setidaknya 75 tokoh, berkait, beruntun, berkesinambungan satu sama lain. Di antara tokoh tatum yang sangat legendaris, yakni Bihing, Damang Sabang, Lambung, Sephung (Sam Hau Fung), Kolakang, Likai, Ekan, Sangen, Songalang (adik kandung Bungai) bergelar Songalang Bio Hobuluk Bulo alias Bahkas Bajan Endas Nyalan, Nohoon Endas Mocon. Arti gelar Songalang adalah penjaga rumah agar terjamin kelestarian budaya, etika dan moral leluhur. Songalang diilustrasikan memiliki kesaktian dan yang lebih tinggi dari Bungai. Tokoh laki-laki tatum lainnya, Damang Ahphui, Andin Amai Benang bergelar Lukun Olung Sahkau Bahtang, Kolatung Laung Penyang, Iman Tambun (tokoh manusia yang hidup di gua), Sabang Owah Olung Dahtah. Kemudian, Sarun Nukan Olung Monyangan (selalu seorang diri jika mengayau bertujuan memotong kepala manusia), Basiu Anjuk Kuhung Bahtuk Dalang Patuk Kuhkoi Kaluk Balahaan Nuhkat Honjan Lunjan Depah Uhpah Nyandah (artinya seorang tabib yang kesohor dan sangat terkenal), Lako Amai Lebe Olung Dungan. Tokoh tatum perempuan, Nyai Endas (istri Sephung), Tobalak, Menyuk, Buteu, Tibeu, Lucang, Lupung, Nyai Undang. Generasi tahtum berikutnya Tambun, Bungai, Karing (istri Bungai), Bulo (istri Tambun), Benang, Undang Inai Hemai bergelar Nyai Kajuk Tangik, Somulit Minak Lingut bergelar Babin Uud Nyahput Dumut. Babin Uud Nyahput Dumut merupakan anak perempuan Sephung dari istrinya yang berasal dari orang Sungai Bohokam (Mahakam) di Provinsi Kalimantan Timur). Ada lagi tokoh lain bernama Komulung (adik Tambun). Kolimoi dan tatum mengilustrasikan paling tidak ada empat tokoh fenomenal, yakni Kolakang, Sephung, Nyai Endas dan Buhkai. Kolakang lahir, tumbuh, berkembang, hingga meninggal dunia di Dusun Pojange, Desa Olung Monakon, Kecamatan Momaluh (Ambalau), Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Kolakang memiliki anak kandung hingga tiga puluh orang, karena terkena sumpah binatang kepiting yang sedang mengeram telur di dalam sungai permukaan dangkal. Lantaran haus, Kolakang tidak cermat meletakkan sumpitnya saat akan meminum air di sungai. Mata sumpit Kolakang tumbang mengenai tubuh kepiting yang tengah mengeram. Sambil mengerang kesakitan terkena mata sumpit, makluk kepiting mengeluarkan sumpah bahwa kelak nanti Kolakang bakal memiliki banyak anak seperti dirinya. Sephung diilustrasikan manusia perantau, pedagang dan jago mengawini perempuan cantik, kaya-raya dan sakti, karena setiap mengunjungi wilayah baru, selalu ada wanita muda yang dijadikan istri hingga punya anak. Selain mengawini wanita cantik, kaya-raya dan sakti bernama Nyai Endas, jagoan Sephung diceritakan juga mengawini sejumlah perempuan pemilik tempayan antik, berparas cantik di wilayah pehuluan Sungai Bohokam (Mahakam). Nyai Endas, selain kawin dengan Sephung, diceritakan pula pernah kawin dengan dua orang lelaki dari manusia alam gaib di dalam waktu yang berbeda, yakni Sahabung dan Kandang bergelar Lacan Oho Bobalo Bulo (raja langit berambut emas). Perkawinan Nyai Endas dengan manusia alam gaib, berlangsung sebelum berkenalan dengan Sephung. Perkawinan Nyai Endas dengan Lacan Oho Bobalo Bulo berlangsung, pada saat Sephung merantau cukup lama. Selama perantauannya pula, Sephung menikah dengan beberapa wanita lain di pehuluan Sungai Bohokam (Mahakam), Provinsi KalimantanTimur. Sungai Bokoham bermuara di Selat Makassar. Tatum menyebut Sephung atau Sam Hau Phung berasal dari Macao, Republik Rakyat Cina (RRC) dan mendarat di Kalimantan lewat pantai Negara Bagian Sabah, Federasi Malaysia. Dari Sabah, Sephung melanjutkan perjalanan ke arah barat Kalimantan. Tiba di wilayah Negara Bagian Sarawak, dekat Sabah, Sephung menemukan sungai yang dengan pemandangan yang sangat indah, dan belakangan dinamakannya, Sungai Miri. Buhkai, selain menikah dengan lelaki alam bumi bernama Seluphui, diceritakan pula sebelumnya menikah dengan lelaki dari manusia alam gaib bernama Komanai Olung Sahai di pehuluan Sungai Pojange, Desa Olung Monakon, Kecamatan Sorabai (Serawai), Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Beberapa tahun menetap di Sungai Miri, Sarawak, Sephung mendengar di Olung Pojange, Desa Monakon, Kecamatan Momaluh (Ambalau), Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, ada seorang perempuan sangat cantik bernama Nyai Endas. Sephung langsung meluncur dari Sarawak, Malaysia, dan ternyata Nyai Endas, sudah pindah bersama keluarganya ke Olung Pojange, pehuluan Sungai Kahayan, Kabupaten Puruk Bulo (Gunung Mas), Provinsi Kalimantan Tengah. Sephung meluncur ke Kalimantan Tengah dan berhasil menemui Nyai Endas di sebuah aliran sungai yang kelak dinamakan Miri. Itulah sebabnya di Kalimantan, Sungai Miri ada di dua tempat, yakni di Kalimantan Tengah dan Sarawak, sebuah pemberian nama berdasarkan petulangan asmara jagoan tukang kawin, Sephung. Nama Bungai dimiliki oleh tiga orang. Pertama, Bungai keturunan biologis pasangan Sephung – Nyai Endas, asal Pojange, Desa Monakon, Kecamatan Momaluh (Ambalau), Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Kedua, Bungai keturunan biologis dari Nyai Bolian, asal Pojange, Desa Monakon, Kecamatan Momaluh (Ambalau), Kabupaten Sintang. Ketiga, Bungai keturunan biologis dari Nyai Maro, asal Pojange, Desa Monakon, Kecamatan Momaluh (Ambalau) yang lebih banyak menetap di Olung Mongilik (Tumbang Miri), Kecamatan Kahayan Hulu Utara, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah. (*)


Budaya Lainnya

Pulau Bunyu – Kalimantan Utara

Kalimantan Utara memiliki Pulau yang sangat layak dan menarik untuk dikunjungi. Keindahaan Pulau Bunyu yang tak kalah eksotisnya. Apalagi untuk meliha [...]

Baca Selengkapnya

Alat musik tradisional Sulawesi Tengah Tatali

Tatali merupakan alat musik tradisional dari Sulawesi Tengah yang menyerupai Suling. Tatali dimainkan dengan cara ditiup dan alat musik ini merupakan [...]

Baca Selengkapnya

Tahuri / Korno

Tahuri / Korno, Alat musik ini bisa dibilang sangat “tradisional”. Mungkin anda pertama kali melihatnya, anda akan berpendapat bahwa ini adalah be [...]

Baca Selengkapnya

SUKU OSING

Orang atau suku Osing atau kadang juga disebt sebagaian orang dengan nama Using berdiam dan bermukim secara tersebar luas di Kec.Giri, juga di wilayah [...]

Baca Selengkapnya
Komentar
Komentar masih kosong. Jadikan diri anda sebagai komentar pertama.
Berikan Komentar