BudayaDetail Budaya

Kain Berang: Filosofi Kehidupan Dalam Ikat Kepala Merah Suku Huaulu Pakaian Tradisional

2018-12-21 12:03:42
| | |
Share:

Suku Huaulu memiliki satu ciri khas yang cukup mencolok terutama pada kaum laki-laki dewasa. Mereka memiliki tradisi ikat kepala dari kain merah yang disebut sebagai kain berang. Ikat kepala ini diikatkan dan menutupi kepala pemakainya. Masyarakat Huaulu menjadikan kain berang sebagai identitas tersendiri bagi kaum laki-laki Huaulu yang sudah akil baligh dan dianggap dewasa. Biasanya, seorang anak laki-laki akan memakai ikat kepala merah ini pada usia remaja, sekitar 15-17 tahun dan akan terus digunakan seumur hidupnya. Selain berarti tanda kedewasaan, ikat kepala ini juga berfungsi sebagai kebanggaan laki-laki Huaulu. Sistem Patrilineal yang dianut suku Huaulu membuat kaum laki-laki memiliki harga lebih dan selalu menjadi sosok pimpinan dalam kekerabatan Huaulu. Warna merah pada kain Berang juga menandakan unsur keberanian yang diharapkan ada pada tiap individu lelaki Huaulu. Oleh karena itu, kain berang ini juga menjadi ornamen wajib yang digunakan ketika para lelaki akan berangkat berperang. Bila disesuaikan dengan kondisi modern yang tidak ada lagi peperangan, biasanya kain berang digunakan ketika mereka mengadakan upacara adat dan tarian cakalele. Sepintas, ikat kepala Huaulu sama dengan ikat kepala saudara mereka Suku Naulu yang bermukim di wilayah Seram Selatan. Memang kedua suku ini memiliki hubungan keluarga yang cukup dekat. Keduanya memakai kain berang yang sama sebagai ikat kepala, namun berbeda cara pemakaiannya. Bagi suku Huaulu, kain berang dibentuk bulat menyerupai kepala pemakainya sedangkan di Suku Naulu, kain berang dibentuk hingga seolah muncul 2 telinga yang lancip di bagian samping atas kepala pemakainya. Perbedaan hanya terdapat pada pemakaiannya saja, sedangkan untuk makna dan fungsinya sama saja. Ikat kepala Suku Huaulu atau Kain Berang ini adalah bagian yang tidak akan pernah terpisahkan dari keberadaan suku ini. Kain Berang sudah menjadi sebuah identitas tidak hanya bagi kaum laki-laki namun juga Suku Huaulu secara menyeluruh. Namun, tradisi ini mempunyai tantangan berat ketika berhadapan dengan kondisi jaman yang kian modern. Di satu sisi, tradisi ini harus memaklumi terpaan modernisasi agar suku Huaulu dapat terus bertahan dari kepunahan, di sisi lain tradisi Kain Berang adalah warisan leluhur yang memiliki arti penting untuk terus dipertahankan. [Phosphone/IndonesiaKaya] Sumber : https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/kain-berang-filosofi-kehidupan-dalam-ikat-kepala-merah-suku-huaulu


Budaya Lainnya

Batubara

Pengusahaan batubara di Kalimantan Selatan dilakukan oleh perusahaan yang tergolong dalam kelompok PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Ba [...]

Baca Selengkapnya

Kayu Kuku

Kayu kuku adalah tanaman tropis yang tumbuh subur di hutan daratan rendah, terutama di hutan daratan rendah yang bertanah podsolik dan aluvial. Kayu k [...]

Baca Selengkapnya

Lambang Provinsi Riau

Arti/Makna dari Lambang Provinsi Riau : Mata Rantai Tak Putus Berjumlah 45adalah lambang persatuan bangsa dan diproklamirkan pada tahun 1945, yaitu t [...]

Baca Selengkapnya

Alat musik tradisional Sulawesi Tengah gimba

alat musik tradisional Gimba, tidak ada yang mengetahui pasti sebenarnya apa itu Gimba karena pada kecamatan lain di Kab. Donggala ada juga yang menam [...]

Baca Selengkapnya
Komentar
Komentar masih kosong. Jadikan diri anda sebagai komentar pertama.
Berikan Komentar