BudayaDetail Budaya

Cerita Rakyat Kalimantan Barat Asal Usul Batu Menangis Cerita Rakyat

2018-09-24 14:18:58
| | |
Share:

Cerita rakyat Nusantara menyajikan beragam warna budaya daerah. Legenda, dongeng, mitos, saga, maupun fabel dari Indonesia memiliki pesan moral yang kuat. Setelah membaca cerita legenda Keong Emas dari Jawa Timur, blog The Jombang Taste kembali hadir melalui cerita rakyat dari Kalimantan Barat yang berjudul asal-usul Batu Menangis. Bagaimana cerita lengkapnya? Berikut ini kisahnya. Pada masa dulu di sebuah bukit hijau yang letaknya jauh dari pemukiman penduduk di daerah Kalimantan hiduplah seorang janda miskin dan seorang anak gadisnya. Janda itu bernama Mak Dasah sedangkan anak gadisnya bernama Jelita. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil dan sederhana. Rumah itu adalah peninggalan suami Mak Dasah yang meninggal dunia sejak Jelita berumur satu tahun. Gadis itu disebut jelita karena memang wajahnya cantik sekali. Jelita menjadi anak kesayangan ibunya. Demi cinta kasihnya pada sang anak, Mak Dasah walau sudah agak tua tapi rela bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pekerjaan Mak Dasah mencari kayu bakar di hutan kemudian ia jual ke perkampungan warga di kaki bukit. Kegiatan itu Mak Dasah lakukan setiap hari. Selain itu, Mak Dasah juga merawat belasan pohon pisang bekas peninggalan suaminya. Namun pohon pisang itu tidak berbuah setiap saat. Jika pohon pisang berbuah ia akan menjualnya ke perkampungan penduduk yang jaraknya puluhan kilometer dari tempat tinggalnya. Itulah cara Mak Dasah menghidupi dirinya dan Jelita. Semakin hari Si Jelita semakin bertambah dewasa. Kecantikannya semakin tampak mempesona siapa saja pria yang ditemuinya. Sementara itu Mak Dasah si janda bertambah tua. Tapi sayang sekali si Jelita yang sangat dikasihi oleh ibunya itu berkelakuan buruk. Pohon pisang yang jumlahnya enam belas batang tak pernah ditengoknya. Ia lebih suka berias diri di dalam kamar. Ia tidak mau bekerja karena khawatir kuku-kukunya yang lentik dapa rusak oleh pekerjaan kasar. Jelita adalah gadis pemalas. Angin yang membawa debu dan daun-daun kering ke dalam rurnahnya ia biarkan saja. Jangankan halaman rumah, dinding dan lantai kamarnya sendiri ia tak mau mernbersihkannya. Ia selalu menunggu ibunya membersihkan semua isi rumah. Baginya, kecantikannya adalah yang utama. Selain pemalas, anak gadis itu sikapnya manja sekali. Segala perrnintaannya harus dituruti. Setiap kali ia meminta sesuatu kepada ibunya maka harus dikabulkan, tanpa rnemperdulikan keadaan ibunya yang miskin dan setiap hari harus rnembanting tulang mencari sesuap nasi. Pada mulanya saat Mak Dasah mendengar jawaban putrinya yang durhaka jika ditanya orang, si ibu penyayang anak itu masih dapat menahan diri. Ia tidak mau menghardik Jelita di hadapan banyak penduduk. Barulah ketika Mak Dasah dan Jelita berjalan di tempat yang sepi, Mak Dasah bertanya kepada anaknya. “Anakku, mengapa kau menyebutku sebagai pembantumu? Aku kan ibumu,” ucap Mak Dasah memperingatkan Jelita. “Ibu tenang saja, ini hanya sekedar berpura-pura, aku tidak bersungguh-sungguh mengangagap ibu sebagai pembantuku,” jawab Jelita enteng “Tapi sudah tiga kali ini kau menyebutku sebagai budak, aku tak ingin kau melakukannya lagi,” Tegas Mak Dasah kepada Jelita. “Emak…. ini kan hanya pura-pura!” Jelita masih berusaha berkilah. Begitulah percakapan yang terjadi diantara ibu dan anak itu. Mak Dasah hanya bisa mengelus dada menahan sakit hati atas perlakuan putri tunggalnya itu. Mereka berdua meneruskan perjalanan menuju pasar yang dituju. Hingga suatu ketika ada seorang pernuda yang sangat tampan datang mendekati si Jelita. “Hai cantik, siapa namamu?” sapa sang pemuda tampan. “Namaku Jelita, bang.” Jawab Jelita dengan nada suara yang dilembut-lembutkan. “Serasi benar nama dan wajahmu, duhai gadis cantik jelita…!” Pemuda itu menjawab dengan tatapan mata kagum. “Lalu, apakah yang berjalan di belakangmu itu ibumu?” pemuda itu kembali bertanya. “Bukan, bukan! Dia bukan ibuku,” jawab gadis itu dengan suara lantang. “Ia adalah budakku.” Lanjut Jelita sambil mendongakkan kepalanya. Sekali lagi, Mak Dasah masih bisa menahan diri. Ia mencoba memperingatkan anaknya lagi. Namun tak berapa lama kemudian mereka berjalan dan bertemu lagi dengan seorang pernuda tampan. Jelita kembali menyebut Mak Dasah sebagai pembantunya. Sesungguhnya ia malu mengakui Mak Dasah sebagai ibunya. Kini sang ibu tak bisa bersabar lagi. Mak Dasah sudah sangat sakit hati atas penghinaan anaknya itu. “Jelita anakku, kau sungguh kelewat batas, kau durhaka berkali-kali menyebut ibumu sebagai budakmu. Padahal aku yang merawat dan membesarkanmu sejak kecil. Teganya kau berbuat seperti itu?” ujar Mak Dasah dengan berurai air mata. “Emak…! Kenapa Emak marah. Percayalah ini hanya sekedar pura-pura. Sandiwara ini akan selesai nanti setelah pulang dari pasar membeli baju yang baru dan indah. Jika bertemu dengan pemuda tampan maka aku akan mengakui Emak sebagai ibuku,” ucap Jelita berusaha meyakinkan ibunya. “Tidak! Kau terlalu menyakitkan hatiku, bagaimanapun keadaan Emak seharusnya kau mau mengakuiku sebagai ibumu.” Mak Dasah kembali menasehati Jelita. “Nanti Mak, kalau sudah beli baju baru.” Jelita masih bersikukuh dengan kemauannya. Sang ibu tak bisa menahan diri lagi. Sudah bertahun-tahun ia diam atas perbuatan durhaka anaknya kepadanya. Sudah lama ia menasehati Jelita namun tetap saja anak manja itu berlaku kasar kepadanya. Ia tak mau berdebat lagi dengan anaknya lalu ia berdo’a kepada Tuhan. “Ya, Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, Tuhan hukumlah anak durhaka ini! Hukumlah dia!” ujar Mak Dasah. Doa Mak Dasah terkabulkan. Atas kuasa Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu berubah menjadi batu. Perubahan ku dimulai dari kaki. Ketika perubahan itu telah mencapai setengah badan, anak gadis itu menangis rnemohon ampun kepada ibunya. “lbu… Ibu… Ampunilah saya, ampunilah kedurhakaan anakmu selama ini. Ibu… ibu… ampunilah anakmu,” ratap Jelita. Anak gadis yang berperilaku durhaka itu terus meratap dan menangis memohon ampun kepada ibunya. Akan tetapi, semuanya sudah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah menjadi batu. Sekalipun telah menjadi batu, namun orang dapat melihat bahwa kedua matanya masih menitikkan air mata, seperti sedang menangis. Oleh karena itu batu yang berasal dari gadis yang mendapat kutukan ibunya itu disebut Batu Menangis. Demikianlah cerita asal-usul Batu Menangis yang berbentuk legenda ini terjadi. Masyarakat di provinsi Kalimantan Barat mempercayai bahwa kisah itu benar-benar pernah terjadi. sumber:https://agussiswoyo.com/sejarah-nusantara/cerita-rakyat-kalimantan-barat-dongeng-mak-dasah-dan-asal-usul-batu-menangis/


Budaya Lainnya

Naskah Kuno Bukti Peradaban Lampung

Naskah Kuno merupakan buku kulit kayu yang biasanya berisikan sejarah-sejarah suatu daerah atau bukti-bukti peninggalan sejarah di Lampung. Lampung ju [...]

Baca Selengkapnya

Model

Model pada dasarnya dibuat dari adonan yang sama dengan pempek kapal selam. Bedanya, model diisi dengan tahu dan digoreng sebelum disaji. Pada waktu d [...]

Baca Selengkapnya

Calong

Calong adalah alat musik tradisional yang berbahan dasar batok kelapa dan bambu. Biasanya alat musik ini dimainkan sendiri, namun berkembangnya jaman [...]

Baca Selengkapnya

Bahasa Semarang

Para pemakai Dialek Semarangan juga senang menyingkat frase, misalnya Lampu abang ijo (lampu lalu lintas) menjadi “Bang-Jo”; seratus (100) menjadi [...]

Baca Selengkapnya
Komentar
Komentar masih kosong. Jadikan diri anda sebagai komentar pertama.
Berikan Komentar