BudayaDetail Budaya

Bepelas, Setiap Malam Perayaan Erau Ritual

2018-12-13 23:54:20
| | |
Share:

Setiap malam selama tujuh hari penyelenggaraan Erau, akan terdengar suara menggelegar dari depan Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman). Suara tersebut adalah suara dentuman dari meriam yang terdapat di pelataran depan museum. Dentuman meriam menjadi pertanda bahwa ritual bepelas tengah dilakukan. Ruang Stinggil (Siti Hinggil) dipenuhi kerabat Kesultanan dan tamu undangan yang mengelilingi Tiang Ayu. Dewa (wanita pengabdi ritual) dan belian (pria pengabdi ritual) melakukan tari-tarian sakral dan menghaturkan mantra kepada para arwah di alam gaib. Bepelas menjadi salah satu rangkaian ritual sakral di Erau. Dalam ritual ini, Sultan atau Putra Mahkota Kutai melakukan ritual berjalan menuju Tiang Ayu dengan tangan kiri berpegangan pada kain cinde dan tangan kanan memegang tali juwita. Sesampainya di hadapan Tiang Ayu, Sultan atau Putra Mahkota akan menginjak pusaka Gong Raden Galuh yang segera disambut dengan dentuman meriam. Biasanya, bepelas dilakukan oleh Sultan pada malam pertama hingga ketiga, sedangkan malam-malam selanjutnya dilakukan oleh Putra Mahkota. Banyaknya Gong Raden Galuh diinjak berbeda-beda setiap harinya, sesuai urutan hari pelaksanaanya. Jumlah dentuman meriam yang terdengar pun berbeda-beda mengikuti berapa kali Sultan menginjak gong pada malam tersebut. Di hari pertama, akan terdengar satu dentuman. Pada hari kedua terdengar dua dentuman, begitu seterusnya hingga hari ketujuh. Ritual bepelas berlangsung setelah prosesi merangin selesai dilaksanakan di Serapo Belian, kecuali ketika jatuh pada malam Jumat. Sebelum Sultan atau Putra Mahkota melakukan bepelas, dewa dan belian terlebih dahulu menjalankan sejumlah ritual. Ritual yang dilakukan dimulai dengan berputar mengelilingi Tiang Ayu sebanyak tujuh putaran. Setelah tujuh putaran, para belian duduk berjajar di sisi kiri Tiang Ayu sedangkan para dewa duduk di sisi kanan dari Tiang Ayu. Selanjutnya, dilakukan sejumlah tarian sakral oleh para dewa. Tari yang pertama dilakukan adalah tari selendang dengan mengelilingi Tiang Ayu sebanyak satu kali. Lalu dilanjutkan tari kipas dan tari jung njuluk. Selanjutnya, pawang dewa mengucapkan mantra (memang) untuk menghadirkan Dewa Karang dan Pangeran Sri Ganjur yang dipercaya menjadi penjaga Tiang Ayu dari gangguan alam gaib sepanjang pelaksanaan bepelas. Kemudian, seorang dewa akan melakukan tari dewa memanah. Tari ini dilakukan menggunakan sebuah busur dan batang kayu berapi sebagai anak panahnya. Sang penari akan berkeliling satu putaran lalu melepaskan anak panah berapi tersebut ke empat penjuru saat berputar untuk kedua kalinya. Jika api yang ada di anak panah mati, sang penari harus menyalakannya kembali dengan api dari nyala lilin yang mengelilingi Tiang Ayu. Selepas tari tersebut, dilakukan tari ganjur oleh empat orang pria, dengan mengenakan ikat kepala khusus dan gada kain (ganjur). Tari ini dilakukan sebanyak satu putaran lalu dilakukan kembali satu putaran oleh empat orang yang berbeda (beganjur), biasanya mengajak dua tamu kehormatan yang didampingi dua orang kerabat Kesultanan. Setelah putaran kedua, dilakukan tari ganjur oleh seorang pria, diikuti oleh beberapa orang dewa. Selepas rangkaian prosesi tersebut dilakukan, barulah bepelas dilakukan oleh Sultan atau Putra Mahkota. [Ardee/IndonesiaKaya] Sumber : https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/bepelas-ritual-sakral-beriring-dentum-meriam-di-setiap-malam-perayaan-erau


Budaya Lainnya

Ikan Kayu - Eungkot Keumamah

Eungkot Keumamah merupakan salah satu masakan khas Aceh yang sudah ada sejak zaman dulu. Bahkan makanan ini menjadi andalan bagi para pahlawan Aceh pa [...]

Baca Selengkapnya

Cerita Rakyat-Legenda Keong Mas

Zaman dahulu kala raja Kertamarta mempunyai dua orang putri yang bernama Galuh Ajeng dan Candra Kirana. Suatu hari, raja hendak menikahkan Candra Kira [...]

Baca Selengkapnya

Tari Anitu

Anitu berarti halus, tari ini dikenal di daerah Kulawi dan Palu Kabupaten Donggala. Tari Anitu ditarikan oleh 6 orang wanita. Formasi pokok dalam tari [...]

Baca Selengkapnya

Marwas

Selain Kompang, Marwas juga merupakan salah satu contoh alat musik tradisional Riau yang dimainkan dengan cara dipukul / ditepak. Marwas digolongkan s [...]

Baca Selengkapnya
Komentar
Komentar masih kosong. Jadikan diri anda sebagai komentar pertama.
Berikan Komentar