BudayaDetail Budaya

ASAL USUL GUNUNG KELUD Cerita Rakyat

2019-01-27 16:23:20
| | |
Share:

Raja Brawijaya penguasa Kerajaan Majapahit, mempunyai seorang putri yang cantik yaitu Dyah Ayu Pusparani. Banyak raja dan pangeran yang melamar untuk dijadikan permaisuri. Kemudian Raja Brawijaya mengadakan sayembara, siapa yang bisa merentang busur sakti Kyai Garodayaksa dan sanggup mengangkat Gong Kyai Sekardelima, dialah yang berhak menikah dengan Putri Pusparani. Tak ada satupun pelamar yang sanggup merentang busur apalagi mengangkat gong yang besar itu. Menjelang berakhir sayembara itu datanglah seorang pemuda berkepala lembu, yaitu Raden Lembusura atau Raden Wimba. Ia ikut sayembara dan berhasil merentangkan busur serta mengangkat Gong Kyai Sekardelima. Melihat kemenangan Lembusura, Putri Pusparani langsung meninggalkan Sitininggil. Putri lari kepada embannya. Dia tidak mau menikah dengan manusia berkepala binatang. Akhirnya dia menemukan jalan keluar. ’’ Selamat Raden Wimba, engkau telah memenangkan sayembara dengan gemilang’’ ’’ Terima kasih Putri dan kau akan menjadi istriku ’’ ’’ Saya tahu itu. Namun saya masih mengajukan satu syarat lagi ’’ ’’ Katakan Putri, apa syaratmu itu ? ’’ ’’ Buatkan aku sumur di puncak Gunung Kelud ! Air sumur itu akan kita pakai berdua setelah selesai upacara perkawinan ’’ ’’ Baiklah Putri’’ Dengan kesaktiannya, konon ia membuat sumur bersama makhluk halus. Akhirnya Prabu Brawijaya menemukan cara. Lembusura harus ditimbun di dalam sumur. Sebentar saja Lembusura tertimbun di dasar sumur itu. ’’ Prabu Brawijaya, engkau raja yang licik. Aku bisa membalasmu. Yang terpendam ini adalah ragaku bukan nyawaku. Ingat-ingatlah, setiap 2 windu sekali aku akan merusak tanahmu dan kerajaanmu ’’ Hingga sekarang ini jika Gunung Kelud meletus dianggap sebagai amukan Lembusura untuk membalas dendam atas tindakan Prabu Brawijaya. Meskipun telah puluhan kali meletus dan memakan relatif banyak korban jiwa sejak abad ke-15 sampai abad ke-20, gunung api ini menjadi salah satu obyek wisata menarik di daerah itu karena keindahan panorama alamnya. Gunung yang memiliki ketinggian 1.730 meter di atas permukaan laut ini semakin menarik minat para pengunjung karena setiap tanggal 23 Suro (penanggalan Jawa) masyarakat setempat menggelar acara arung sesaji Pagelaran acara tersebut merupakan simbol Condro Sengkolo atau sebagai penolak bala dari bencana akibat pengkhianatan cinta yang dilakukan oleh putri Kerajaan Majapahit terhadap seorang pemuda bernama Lembu Sura.


Budaya Lainnya

Gamolan provinsi Lampung

Gamolan hampir mirip dengan alat musik gamelan yang berasal dari daerah Jawa. Hanya saja Gamolan yang berada di Lampung ini terbuat dari susunan-susun [...]

Baca Selengkapnya

Makanan Manggulu

Kabupaten Sumba Timur merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki produk pangan yang beragam. Salah satunya adal [...]

Baca Selengkapnya

Lambang Kabupaten Lamongan-JawaTimur

Arti lambang 1. Segilima sama sisi Arti segilima sama sisi pada lambang Kabupaten Lamongan melambangkan dasar Negara pancasila. 2. Bintang Pada l [...]

Baca Selengkapnya

Bahasa Liabuku

Bahasa Liabuku adalah sebuah bahasa Austronesia yang dipertuturkan di wilayah Bungi, Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, Indonesia. Bahasa ini termasuk ke dal [...]

Baca Selengkapnya
Komentar
Komentar masih kosong. Jadikan diri anda sebagai komentar pertama.
Berikan Komentar