BudayaDetail Budaya

Alat Musik Kolintang Sulawesi Utara Alat Musik Tradisional

2018-12-11 11:18:07
| | |
Share:

Dahulu kala, tersebutlah sebuah desa yang indah bernama To Un Rano yang sekarang dikenal dengan nama Tondano. Di desa yang terletak di daerah Minahasa ini, ada seorang gadis yang kecantikannya sudah tersohor ke seluruh pelosok desa. Maka banyaklah pemuda yang jatuh hati. Sang gadis bernama Lintang, pandai menyanyi, dan suaranya pun nyaring serta merdu. Pada suatu waktu, sebuah pesta muda-mudi diselenggarakan di desa To Un Rano. Saat itu muncullah seorang pemuda gagah dan tampan yang kemudian berkenalan dengan Lintang. Namanya Makasiga, memiliki keahlian di bidang ukir-ukiran. Makasiga kemudian meminang Lintang, yang diterima dengan satu syarat, yaitu: Makasiga harus mencari alat musik yang bunyinya lebih merdu dari seruling emas. Lalu, Makasiga berkelana keluar-masuk hutan untuk mencari alat musik yang diinginkan Lintang. Untuk menghangatkan badan di malam hari, Makasiga membelah-belah kayu untuk kemudian dijemurnya. Setelah kering, belahan-belahan kayu itu lalu diambil satu persatu dan dilemparkannya ke tempat lain. Saat belahan-belahan kayu jatuh membentur tanah, terdengar bunyi-bunyian yang amat nyaring dan merdu. Makasiga senang bukan kepalang. Sementara di tempat lain, dua orang pemburu juga mendengar bunyi-bunyian itu sehingga mencari sumbernya. Singkat cerita, Makasiga jatuh sakit dan kurus kering karena terlalu fokus mencari alat musik untuk Lintang, sehingga ia lupa makan dan minum. Dua orang pemburu tadi menemukannya dan membawanya kembali ke desanya. Namun karena sakitnya semakin parah, Makasiga pun meninggal dunia. Mendengar Makasiga meninggal, Lintang pun sakit parah dan menyusulnya ke alam baka. Cerita di atas merupakan cerita rakyat Minahasa mengenai asal usul alat musik kolintang, yang merupakan alat musik tradisional khas Minahasa. Berbahan dasar kayu, namun jika dipukul akan menghasilkan bunyi-bunyi yang nyaring dan merdu. Bunyi yang dihasilkan dapat mencapai nada-nada tinggi maupun rendah. Jenis kayu yang digunakan untuk membuat kolintang adalah kayu telur, bandaran, wenang, kakinik atau jenis kayu lain yang ringan tetapi bertekstur padat dan serat kayunya tersusun rapi membentuk garis-garis horizontal. Kata “kolintang” berasal dari bunyi “tong” untuk nada rendah, “ting” untuk nada tinggi, dan “tang” untuk nada tengah. Dahulu, orang Minahasa biasanya mengajak bermain kolintang dengan mengatakan "Mari kita ber Tong Ting Tang" atau dalam bahasa daerah Minahasa "Maimo Kumolintang". Dari kebiasaan itulah muncul istilah "kolintang”. Alat musik kolintang pada awalnya hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang diletakkan berjejer di atas kedua kaki pemainnya yang duduk di tanah, dengan posisi kedua kaki lurus ke depan. Dari waktu ke waktu, penggunaan kaki pemain diganti dengan dua batang pisang. Sementara peti resonator baru mulai digunakan sejak kedatangan Pangeran Diponegoro di Minahasa pada tahun 1830. Dahulu, kolintang hanya terdiri dari satu melodi yang terdiri dari susunan nada diatonis, dengan jarak nada dua oktaf. Sebagai pengiring, digunakan alat-alat musik bersenar seperti gitar, ukulele dan bas. Namun pada tahun 1954, kolintang sudah memiliki jarak nada dua setengah oktaf dan masih tetap memiliki susunan nada diatonis. Pada tahun 1960, berkembang lagi hingga mencapai tiga setengah oktaf dengan nada 1 kres, naturel, dan 1 mol. Dasar nadanya masih terbatas pada tiga kunci (naturel, 1 mol, dan 1 kruis), jarak nadanya berkembang lagi menjadi empat setengah oktaf dari F sampai dengan C. Perkembangan alat musik kolintang masih tetap berlangsung, baik dari segi kualitas alat, perluasan jarak nada, maupun bentuk peti resonator. [TimIndonesiaExploride/IndonesiaKaya] Sumber : https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/kolintang


Budaya Lainnya

Satwa endemik

Banggai Cardinal Bentuknya mirip capung. Ikan Banggai Cardinal (Pterapogon Kauderni) hanya ditemukan di perairan Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah ( [...]

Baca Selengkapnya

Sekhdap dan Bekhdah

Alat musik ini hampir sama dengan Kerenceng atau Terbangan, hanya saja alat musik tradisional lampung yang satu ini memiliki ukuran lebih besar bahkan [...]

Baca Selengkapnya

Tari Zapin Kalimantan Barat

Tari Zapin Tari Zapin adalah tarian rumpun Melayu yang menghibur sekaligus sarat pesan agama dan pendidikan. Memiliki kaidah dan aturan yang tidak bo [...]

Baca Selengkapnya

Burdah atau Gendang Oku

Burdah atau Gendang Oku adalah alat musik sejenis gendang yang berukuran besar terbuat dari kulit hewan dan kayu nangka. Dikarenakan alat musik burdah [...]

Baca Selengkapnya
Komentar
Komentar masih kosong. Jadikan diri anda sebagai komentar pertama.
Berikan Komentar